Kerajaan Medang di Jawa Timur merupakan kelanjutan langsung dari Kerajaan Medang yang sebelumnya berpusat di Jawa Tengah. Perpindahan pusat kekuasaan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang akibat kondisi alam, politik, dan ekonomi yang berubah. Salah satu faktor yang sering menjadi perhatian para sejarawan adalah dugaan terjadinya letusan besar Gunung Merapi pada abad kesepuluh yang menghancurkan pusat pemukiman serta wilayah administratif kerajaan di Kedu dan Prambanan. Selain faktor alam, ancaman eksternal dari Sriwijaya juga menjadi alasan kuat mengapa pusat kerajaan perlu dipindahkan. Ketegangan politik antara Medang dan Sriwijaya yang telah berlangsung sejak masa Balaputradewa membuat wilayah Jawa Tengah dianggap tidak lagi aman secara strategis. Dengan demikian, pemindahan pusat kerajaan ke wilayah timur dipandang sebagai upaya menata kembali kekuasaan dan menjaga keberlangsungan kerajaan dalam jangka panjang.
Di Jawa Timur, Kerajaan Medang memasuki tahap baru yang dikenal dengan masa Dinasti Isyana. Pendiri dinasti ini adalah Mpu Sindok, seorang tokoh penting yang berhasil membawa stabilitas setelah masa-masa ketidakpastian di Jawa Tengah. Ia bergelar Sri Isyana Wikramadharmottunggadewa, sebuah gelar yang menegaskan legitimasi politiknya sebagai pemimpin baru sekaligus pendiri dinasti baru. Di masa pemerintahannya, kegiatan pemerintahan, pertanian, administrasi, dan keagamaan kembali ditata dengan rapi. Wilayah yang dipilih sebagai pusat kekuasaan berada di daerah yang kini mencakup Jombang, Kediri, dan Madiun, kawasan yang strategis karena memiliki aliran sungai-sungai besar yang mendukung pertanian serta perdagangan lokal. Bukti-bukti mengenai aktivitas pemerintahan dinasti ini ditemukan dalam sejumlah prasasti, seperti Prasasti Anjuk Ladang dan Paradah, yang memperlihatkan perhatian penguasa terhadap pembangunan, pengelolaan tanah, serta perlindungan terhadap kaum agamawan.
Setelah wafatnya Mpu Sindok, kekuasaan berlanjut kepada putrinya, Sri Isyana Tunggawijaya, yang kemudian menikah dengan Sri Lokapala. Dari pasangan ini lahir Sri Makutawangsawardhana yang meneruskan pemerintahan pada masa berikutnya. Keberadaan Dinasti Isyana menunjukkan bahwa kerajaan di Jawa Timur mampu mempertahankan kesinambungan politik, meskipun tetap menghadapi tantangan internal dan eksternal. Pada masa Makutawangsawardhana dan penerusnya, Dharmawangsa Teguh, Medang di Jawa Timur berupaya memperluas pengaruhnya, termasuk dengan menjalin hubungan diplomatik dan persaingan terbuka dengan Sriwijaya. Salah satu upaya penting Dharmawangsa adalah menyelenggarakan penerjemahan kitab suci ke dalam bahasa Jawa Kuno serta memajukan pusat-pusat keagamaan Hindu-Siwa, yang semakin memperkuat identitas budaya kerajaan.
Namun masa pemerintahan Dharmawangsa berakhir dengan tragedi. Pada tahun 1016 terjadi serangan besar yang dilakukan oleh Wurawari, seorang sekutu Sriwijaya, yang menghancurkan istana dan membunuh banyak anggota keluarga raja. Peristiwa ini dikenal dalam sejarah sebagai Pralaya Medang, sebuah titik balik yang menandai runtuhnya Kerajaan Medang di Jawa Timur. Meskipun demikian, garis keturunan dinasti ini tidak sepenuhnya hilang. Salah satu anggota keluarga kerajaan, Airlangga, berhasil melarikan diri dan kemudian membangun kembali kekuasaan di Jawa Timur dengan mendirikan Kerajaan Kahuripan pada tahun 1019. Kahuripan inilah yang kemudian berkembang menjadi kerajaan-kerajaan besar selanjutnya, seperti Kadiri dan Singhasari.
Dengan demikian, fase Medang di Jawa Timur dan munculnya Dinasti Isyana memainkan peranan penting dalam kesinambungan sejarah politik Jawa. Fase ini bukan hanya menandai perpindahan geografis pusat kekuasaan, tetapi juga memperlihatkan kemampuan kerajaan untuk beradaptasi terhadap perubahan. Dinasti Isyana menjadi jembatan antara kejayaan Medang di Jawa Tengah dan kemunculan kerajaan-kerajaan besar yang membentuk wajah politik dan kebudayaan Jawa pada abad-abad berikutnya.
Daftar Referensi
Ricklefs, M. C. (2008). Sejarah Indonesia modern 1200–2008. Serambi.
Soekmono. (2015). Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 2. Kanisius.






