Airlangga dan Berdirinya Kerajaan Kahuripan

Gambar: Airlangga sebagai perwujudan Dewa Wisnu naik Garudea

Airlangga merupakan salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Jawa awal abad kesebelas, terutama karena perannya dalam memulihkan stabilitas politik setelah runtuhnya Kerajaan Medang di Jawa Timur. Ia adalah keturunan Wangsa Isyana, putra dari pasangan Mahendradatta (putri Bali dari dinasti Warmadewa) dan Udayana. Secara garis keturunan, Airlangga juga memiliki hubungan dengan dinasti yang sebelumnya memerintah Medang, sehingga kedudukannya dianggap sah untuk memimpin ketika keadaan politik kacau pasca-Pralaya Medang.

Peristiwa Pralaya Medang pada tahun 1016, yaitu serangan yang dipimpin Wurawari terhadap istana Dharmawangsa Teguh, menghancurkan pusat pemerintahan Medang dan menewaskan sebagian besar keluarga kerajaan. Airlangga yang saat itu masih berusia sekitar enam belas tahun berhasil melarikan diri dan berlindung di daerah hutan bersama para pengikutnya. Selama beberapa tahun ia hidup dalam persembunyian hingga situasi politik memungkinkan untuk kembali membangun kekuasaan. Dengan dukungan sejumlah pejabat dan kelompok bangsawan yang tersisa, Airlangga mulai menyusun kembali kekuatan di Jawa Timur.

Pada tahun 1019, Airlangga secara resmi mendirikan Kerajaan Kahuripan sebagai pengganti Medang yang telah hancur. Kerajaan ini berkedudukan di daerah sekitar Sidoarjo, Jombang, dan delta Sungai Brantas yang strategis untuk pertanian dan perdagangan. Airlangga menerapkan berbagai kebijakan pemulihan, termasuk merehabilitasi sawah-sawah, mendukung pembangunan irigasi seperti Bendungan Waringin Sapta, serta membuka jalur perdagangan laut dan sungai untuk meningkatkan perekonomian. Pemerintahannya juga ditandai dengan prakarsa keagamaan, seperti memberikan patronase terhadap pertapaan serta penyusunan karya sastra penting seperti Arjunawiwaha.

Pemerintahan Airlangga berlangsung relatif stabil dan membawa wilayah Jawa Timur kembali menjadi pusat kekuasaan yang kuat setelah masa kekacauan sebelumnya. Kerajaan Kahuripan berkembang pesat dan menjalin hubungan dagang dengan berbagai wilayah di Nusantara. Namun pada akhir pemerintahannya, Airlangga memutuskan untuk membagi kerajaan menjadi dua, yaitu Janggala dan Kadiri, untuk mencegah perebutan takhta antara para pewaris. Setelah pembagian tersebut, Airlangga mengundurkan diri dari kehidupan politik dan memilih menjadi seorang pertapa dengan gelar Resi Gentayu.

Untuk mencegah terjadinya perebutan kekuasaan dan menjaga kestabilan politik, Airlangga memutuskan untuk membagi kerajaan Kahuripan menjadi dua wilayah. Pembagian ini dilakukan sekitar tahun 1045 dengan bantuan penasihat spiritualnya, seorang pertapa bernama Mpu Bharada. Hasil dari keputusan ini adalah terbentuknya dua kerajaan baru, yaitu Jenggala dan Panjalu. Jenggala berpusat di daerah sekitar Kahuripan, dekat delta Sungai Brantas (kini Sidoarjo dan sekitarnya), sementara Panjalu berkembang di daerah pedalaman yang sekarang dikenal sebagai wilayah Kediri dan Madiun.

Pembagian ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga berpengaruh terhadap dinamika politik selama beberapa generasi. Jenggala dan Panjalu menjadi dua kekuatan baru yang sering kali bersaing satu sama lain untuk memperebutkan dominasi. Persaingan tersebut tercatat dalam berbagai sumber sejarah dan karya sastra Jawa, termasuk kisah-kisah Panji yang menggambarkan hubungan rumit antara kedua wilayah. Pada akhirnya, Panjalu yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Kadiri berhasil muncul sebagai kekuatan dominan pada abad kedua belas, sedangkan Jenggala perlahan-lahan hilang dari catatan sejarah sebagai entitas politik yang kuat.

Dengan demikian, hubungan antara Kahuripan, Jenggala, dan Panjalu adalah hubungan politik genealogis. Kahuripan merupakan kerajaan induk yang dibentuk oleh Airlangga, sementara Jenggala dan Panjalu adalah dua kerajaan pecahannya yang dibentuk untuk menghindari konflik suksesi. Pembagian ini menjadi fondasi bagi perkembangan politik Jawa Timur pada abad-abad berikutnya dan turut membentuk peta kekuasaan yang melahirkan kerajaan-kerajaan besar selanjutnya seperti Kadiri, Singhasari, hingga Majapahit.

Related Post