Peninggalan lingga yoni merupakan satu-satunya situs yang berada di Jenangan dan dapat dikategorikan ke dalam warisan budaya daerah yang bersifat tangible, yaitu yang dapat disentuh, berupa benda konkret, pada umumnya benda yang merupakan hasil buatan manusia dan dibuat untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Kebutuhan tersebut dapat bersifat sakral maupun profan. Tinggalan arkeologi yang dijadikan sebagai objek penelitian ini adalah lingga- yoni.
Lingga-yoni merupakan penggambaran wujud visual, dengan bentuk yang bervariasi sesuai dengan landasan konsepsinya, namun pada hakikatnya merupakan sebuah simbol. Simbol atau lambang adalah tanda-tanda yang dibuat oleh manusia dipergunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi. Sejalan dengan pengertian tersebut, Soebadio mengungkapkan bahwa lingga-yoni merupakan simbol dari Siwa.
Sebuah simbol memiliki kapasitas mengekspresikan secara langsung beberapa makna yang kontinuitasnya tidak nyata terlihat secara langsung. Berbagai makna tersebut bersifat multivalentif secara vertikal maupun horizontal, serta saling berhubungan antar semua tingkatannya. Suatu simbol tidaklah bermakna secara terpisah tetapi harus dimaknai secara berkaitan dengan symbol-simbol lainnya Perwujudan sebuah lingga-yoni dapat disebutkan memuat sinkretisasi dari berbagai simbol. Hal ini mengingat sedemikian banyaknya simbol yang dipergunakan untuk memvisualisasikan suatu makna dan konsepsi keagamaan kepada umatnya. Simbol-simbol yang terdapat dalam suatu wujud lingga-yoni tidaklah optimal apabila hanya dimaknai secara visual dan spasial. Simbol-simbol pada lingga-yoni akan dapat dimaknai lebih mendalam, apabila dikaitkan dengan mitos atau sistem kepercayaan sebagai ekspresi verbalnya, ritual sebagai ekspresi gerak-isyaratnya, dan doktrin keagamaan sebagai ekspresi konseptualnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah ditemukannya lingga yoni tersebut di desa Jenangan. Selain itu, untuk mengetahui makna dari adanya situs bagi masyarakat di sekitar peninggalan tersebut. Sedangkan untuk manfaat yang diperoleh dari adanya penelitian ini adalah setelah mengetahui berharganya sejarah untuk kehidupan manusia, secara tidak langsung dapat memberikan wawasan agar masyarakat melestarikan peninggalan sejarah ini.
Daroini, S.Th.I selaku Kepala Desa Pintu mengungkap situs Linggayoni merupakan sebuah situs awal peninggalan kerajaan Majapahit. Jadi Desa Pintu pada sejarahnya pernah disinggahi pada masa peralihan awal kerajaan Singosari kepada kekuasaan Majapahit. Sebelumnya situs ini ditemukan di tengah sawah oleh warga sekitar yang hendak pergi ke sawah. Pada saat itu, situs ini lengkap terdapat lingga dan yoni tetapi setelahnya, batu lingga hilang karena dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab sehingga disana hanya terdapat batu yoni saja dan untuk batu lingga yang terdapat di dalamnya marupakan batu replica yang dibentuk seperti lingga.
Lingga Yoni pada dasarnya merupakan tempat pemujaan. Lingga Yoni merupakan simbol laki-laki dan perempuan. Namun, bukan berarti tidak memiliki makna lantaran justru mengandung banyak filosofi kehidupan. Ponorogo dengan segudang sejarah purbakala era silam tentu tidak hanya ditemukan di Desa Pintu saja tetapi daerah Ponorogo lain. Namun, ketika di Pintu sudah diresmikan tentu diharapkan nantinya bisa menjadi museum peradaban kecil yang mampu menginspirasi tempat lain.
Pengertian Lingga adalah menyerupai alat kelamin laki-laki karena bentuknya seperti Phallus lambang kesuburan pada masa Tradisi Megalithik, dan dalam perkembangan Hindu merupakan simbol dari Dewa Siwa. Lingga berfungsi sebagai penyalur air pembasuh arca.2
Pengertian Yoni adalah menyerupai vagina alat kelamin dari wanita, yang merupakan lambang kesuburan pada masa prasejarah. Pada masa perkembangan Hindu, Yoni merupakan simbol dari Dewi Parvati istri dari Dewa Siwa. Yoni adalah tumpuan bagi lingga atau arca.
Bersatunya Lingga dan Yoni adalah pertemuan antara laki-laki (Purusa) dan wanita (Pradhana) yang merupakan lambang kesuburan, sehingga muncul kehidupan baru (kelahiran). Oleh sebab itu pemujaan akan lingga dan yoni yang merupakan bersatunya Dewa Siwa dan Dewi Parvati adalah suatu berkah bagi masyarakat masa lampau, sehingga biasanya lingga- yoni ini diletakkan di wilayah pertanian atau pemujaan para petani kala itu.






