Situs Kepala Kala Sirah Keteng Ponorogo

Gambar: Situs Kepala Kala Sirah Keteng

Di Ponorogo tepatnya kecamatan Sambit terdapat situs bersejarah yang biasa dikenal dengan Beji Sirah Keteng. Beji Sirah Keteng tersusun dari tiga kata yang memiliki makna yang berbeda. Kata Beji dalam bahasa setempat mempunyai arti sebagai danau dan diartikan masyarakat sebagai padusan dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai pemandian karena di sekitar tempat tersebut terdapat danau atau kolam buatan kecil yang jumlahnya ada tiga kolam. Sedangkan sirah berarti kepala dan keteng yang diambil dari legenda yang beredar bahwa tercium bau leteng-leteng di daerah tersebut yang diduga bau dari darah prabu boko sehingga diberi nama “Keteng”. Sirah keteng diartikan sebagai potongan kepala yang mana sesuai dengan arca yang ditemukan yang berbentuk potongan kepala saja. Potongan kepala ini dipercaya masyarakat sebagai representasi kepala dari Prabu Boko.

Adapun letak dari situs ini berada di Dukuh Krajan Desa Bedingin Kecamatan Sambit Kabupaten Ponorogo Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini berjarak sekitar 15 KM dari pusat kota. Berbicara terkait sejarah dari Situs Beji Sirah Keteng, ada banyak versi yang menceritakan, namun dari berbagai versi memiliki kemiripan yang serupa. Namun cerita yang beredar hanyalah legenda belaka yang diutarakan oleh masyarakat karena hingga saat ini masih belum ada buku atau penelitian yang dilakukan oleh para ahli terkait asal usul Situs Sirah Keteng ini.  Versi yang beredar di masyarakat ada tiga versi cerita yakni, versi Jenggala versi Batara Katong & Suryo Ngalam dan versi pewayangan.

Pertama, versi Kerajaan Jenggala. Dari versi ini diceritakan bahwa Situs Sirah Keteng ini merupakan salat satu peninggalan dari Kerajaan Jenggala, yang mana Kerajaan Jenggalan ini termasuk Kerajaan Hindu di Indonesia yang berdiri sekitar tahun 1040-an dan berakhir sekitar tahun 1130-an. Kerajaan Jenggala merupakan pecahan dari Kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Raja Airlangga.Menurut versi Jenggala konon katanya dahulu terdapat seorang senopati bernama Prabu Boko yang berkuasa di Mataram Kuno. Prabu boko ini merupakan pemuja bangsa lelembut yang bernama Mamang Sari di hutan Ketonggo yang berada di daerah Ngawi Jawa Timur. Alas Ketonggo ini terlihat seperti hutan biasa ketika siang hari, tetapi hutan ini akan berubah menjadi istana yang megah di malam hari. Prabu Boko memperistri Mamang Sari, sehingga Prabu Boko memiliki kesaktian yang lebih dari sebelumnya. Mamang Sari meminta wadal atau tumbal berupa gadis kepada Prabu Boko. Konon katanya jumlah tumbal yang harus dipenuhi ada 40 gadis tetapi masih terpenuhi sekitar 37 dan untuk melengkapi Prabu Boko menculik gadis dari wilayah Kerajaan Jenggala. Hal tersebut membuat raja dari Kerajaan Jenggala murka dan akhirnya mengutus Ki Hajar Bambang Pajar Prono dari Gunung Wilis atau biasa dikenal dengan Hajar Wilis untuk memberantas kejahatan yang dilakukan Prabu Boko. Akhirnya terjadilah pertempuran antara Hajar Wilis dan Prabu Boko selama berhari-hari. Dalam perkelahian tersebut, Prabu Boko kecondhang dan melarikan diri dan terus dikejar oleh Hajar Wilis. Di kisah kejar-kejaran ini menjadikan beberapa nama desa di Kabupaten Ponorogo. Di Desa Pagar misalnya, di desa tersebut Prabu boko lari meloncat pagar. Kemudian sampai di suatu desa ketika senja Prabu Boko memakan pohon beringin sehingga di desa itu dinamakan Wringin Surup. Hingga akhirnya sampai di Bedigin Sambit ini, Prabu Boko kalah dan terpenggal kepalanya. Kemudian Hajar Wilis memisahkan antara badan dan kepala Prabu Boko, Badannya ditanam di Sawah Mbak Endul yang letaknya tidak jauh dari Beji dan kepalanya ditanam di Gunung Sampung. Sebenarnya Hajar Wilis menyuruh nggoto abdi nya untuk menanam kepala Prabu Boko di Gunung Lawu sebelum pagi tiba, tetapi karena tertidur akhirnya ditanam di Gunung Sampung.

Pada zaman Hindia-Belanda sudah ditemukan Prasasti Keting yang terletak di samping Arca Sirah Keteng. Menurut pembacaan JLA Brandes dan WF Stutterheim, Prasasti Sirah Keting berangka tahun 1026 Saka atau 1104 Masehi. Berbeda dengan hasil pembacaan Louis-Charles Damais, yang membaca Prasasti Sirah Keting berangka tahun 1126 Saka atau 1204 Masehi. Setelah ditelusuri lebih lanjut dan dibandingkan dengan beberapa sumber sejarah lainnya, seperti Prasasti Mruwak dan data nama raja-raja Kerajaan Kediri, dapat disimpulkan bahwa pembacaan Damais lebih tepat dan Prasasti Sirah Keting bertarikh 1126 Saka atau 1204 Masehi.

Prasasti Sirah Keting berisi tentang Sri Jayawarsa Digwijaya Sastraprabhu yang merupakan seorang raja yang berkuasa di wilayah Madiun dan Ponorogo. Masa kekuasaannya semasa dengan Raja Kameswara (1184-1194) di Kerajaan Kediri. Dalam prasasti tersebut Disebutkan pula Sri Jayawarsa Digwijaya Sastraprabhu memiliki kerajaan (kekuasaan) otonom yang terlepas dari wilayah kekuasaan Kediri, walaupun wilayah keuasaannya tidak sebesar Kerajaan Kediri.[6]

Dalam Prasasti Sirah Keting terdapat kalimat “dampa blah karajyan“, yang berarti pembagian takhta kerajaan. Dugaan dari para ahli bahwa Sri Jayawarsa Digwijaya Sastraprabhu mendapat takhta dari anak atau cucu Dharmawangsa Teguh, sehingga bisa memiliki kerajaan kecil yang terpisah dari kekuasaan Kerajaan Kediri. Jika ditelisik dari sejarahnya, Kerajaan Kediri dipimpin oleh keturunan Raja Airlangga, menantu sekaligus keponakan Dharmawangsa Teguh. Dapat disimpulkan bahwa masih terdapat hubungan persaudaraan antara Sri Jayawarsa Digwijaya Sastraprabhu dengan raja-raja Kerajaan Kediri. Oleh karena itu, Sri Jayawarsa Digwijaya Sastraprabhu bisa memiliki kerajaan kecil yang terpisah dari kekuasaan kerajaan Kediri.

Berdasarkan prasasti tersebut Situs Sirah Keteng dianggap wilayah warisan yang disebutkan dalam prasati dan dijadikan komplek pemandian putri-putri bangsawan Kerajaan Jenggala, argumen ini diperkuat dengan adanya bukti fisik yaitu beji (sumber) di sekitar lokasi Sirah Keteng. Terdapat penemuan baru, di duga sumber air dari pemandian dan beji itu sekitar 7 km dari situs ini, dihubungkan dengan wurung-wurung / terowongan bawah tanah. Pernah ada warga yang mencoba membuktikan dengan cara menjatuhkan sekam di mata air di gunung, setelah beberapa hari, sekam tersebut sampai ke area pemandian. Selain itu, wurung-wurung di dekat pemandian juga mempunyai ciri khas berupa batu bata yang lebar dan luas, berbeda dengan batu bata jaman sekarang.

Kedua, pada versi Bathara Katong dan Surya Ngalam tidak terdapat sumber cerita yang jelas karena keterbatasan sumber dari peneliti hanya saja disebutkan persamaan kisah yang terjadi ketika peristiwa kejar mengejar antara hajar Wilis dengan Prabu Boko. Menurut versi Bathara Katong dan Suryongalam terjadi kesamaan cerita sesuai dengan legenda dari Kerajaan Jenggala tepatnya pada waktu kejar-kejaran antara Prabu Boko dengan hajar Wilis yaitu terjadinya beberapa nama desa di Kabupaten Ponorogo. Di Desa Pagar misalnya, di desa tersebut Prabu boko lari meloncat pagar. Kemudian sampai di suatu desa ketika senja Prabu Boko memakan pohon beringin sehingga di desa itu dinamakan Wringin Surup. Yang membedakan hanya adanya gadis yang dibawa Prabu Boko ini melawan Prabu Boko dan kemudian mengganggu berlarinya akhirnya ia lepaskan dan di situ diberi nama Desa Nglewan.

Ketiga, dari versi pewayangan, Arca Sirah Keteng atau Arca Kala dianggap sebagai kepala dari Prabu Boko yang terpenggal oleh musuh-musuhnya. Prabu Boko memiliki kesaktian yang luar biasa atau biasa disebut sakti mandraguna. Dari kesaktiannya sang Prabu akhirnya memiliki banyak musuh. Musuh-musuh tersebut ingin membunuh sang Prabu dan terjadilah pertempuran. Akhir dari pertempuran tersebut Prabu Boko terbunuh di Bedingin Ponorogo. Kepala Prabu Boko inilah yang dipercaya sebagai Arca Sirah Keteng.

Kondisi terkini Situs Beji Sirah Keteng ini bisa dikatakan baik karena sudah ada tindakan pemeliharaan yang dilakukan oleh pemerintah dan warga masyarakat sekitar situs tersebut. Representasi kepala Prabu Boko dibuatkan bangunan untuk melindungi arca tersebut. Di area arca tersebut terdapat batu yang bentuknya menyerupai papan dakon yang menurut masyarakat itu adalah alat yang digunakan untuk menghitung hari/wuku dalam jawa.

Di depan Arca terdapat 3 kolam besar. Salah satu kolam dijadikan tempat yang disucikan karena dianggap tempat pemandian para putri bangsawan dimasa keraan Jenggala. Kolam satu tersebut sekarang dijadikan kolam ikan tapi tidak untuk pemancingan karena masih disucikan. Kemudian 2 kolam lainnya digunakan untuk irigasi sawah dan kolam pemancingan umum. Para pengunjung banyak yang berkunjung untuk memancing ikan di Beji tersebut. Disekeliling Beji juga dibangun jalan yang cukup luas digunakan sebagai area Jogging di sekitar kolam.

Di kolam tersebut belum lama ada penemuan baru, di duga sumber air dari pemandian dan beji itu sekitar 7 km dari situs ini, dihubungkan dengan wurung-wurung / terowongan bawah tanah. Pernah ada warga yang mencoba membuktikan dengan cara menjatuhkan sekam di mata air di gunung, setelah beberapa hari, sekam tersebut sampai ke area pemandian. Selain itu, wurung-wurung di dekat pemandian juga mempunyai ciri khas berupa batu bata yang lebar dan luas, berbeda dengan batu bata jaman sekarang.

DAFTAR REFERENSI

Lestari, Inayah Dwi. “Efektifitas Pemanfaatan Situs-Situs Sejarah Di Banjarnegara Sebagai Sumber Belajar Dalam Pembelajaran Sejarah Pada SMAN 1 Banjarnegara Dan SMAN 1 Bawang,” no. Universitas Negeri Semarang (2011).

Marjuki. “Sirah Keteng, Petilasan Kerajaan Wengker di Bedingin Ponorogo”,YouTube, upload by Maju Jalan TV. Web https://youtu.be/5KTx7UAlswI diakses 8 Mei 2023

Nasoichah, Churmatin. “Pembacaan Angka Tahun Prasasti Sirah Keting Dan Kaitannya Dengan Tokoh Sri Jayawarsa Digwijaya Sastraprabu” 6(1), no. Purbawidya (2017).

Ningsih, Widya Lestari. “Kerajaan Jenggala,” no. Kompas.com (2021).

Putri, Arum Sutrisni. “Manfaat Peninggalan Sejarah,” no. Kompas.com (2020).

Sasongko,  Purbo. “Misteri Terowongan Air Kuno Sirah Keteng Ponorogo”, YouTube, upload by Purbo Sasongko, Web https://youtu.be/K9A_pUsti90 diakses 8 Mei 2023

Related Post