Kerajaan Kediri 1104 M

Gambar: Prasasti Lucem, prasasti yang sangat kahs dari era Kediri dengan aksara kwadaran

Kerajaan Kediri merupakan salah satu kerajaan besar di Jawa pada abad ke-11 hingga awal abad ke-13, yang memainkan peran penting dalam perkembangan politik, ekonomi, sastra, dan budaya di masa klasik Hindu-Buddha Indonesia. Kerajaan ini muncul setelah masa kejayaan Mataram Kuno berakhir dan pusat kekuasaan berpindah ke Jawa Timur. Kemunculan Kediri biasanya dikaitkan dengan masa pemerintahan Raja Airlangga (1019–1049), yang setelah berhasil memulihkan stabilitas Jawa, membagi kerajaannya menjadi dua wilayah: Janggala dan Panjalu (Kediri). Pembagian ini dilakukan untuk menghindari perang saudara, tetapi juga menandai awal berdirinya Kediri sebagai kerajaan mandiri yang kelak menjadi dominan di Jawa Timur.

Pada masa awal, Kediri dikenal sebagai kerajaan agraris yang kuat dengan wilayah subur di sepanjang aliran Sungai Brantas. Sistem pertanian yang maju, jaringan irigasi yang stabil, serta kemampuan mengatur produksi pangan membuat Kediri menjadi kekuatan ekonomi regional. Selain itu, Kediri juga memiliki pelabuhan sungai yang terhubung dengan pesisir utara Jawa, memungkinkan perdagangan dengan pedagang dari Asia Tenggara, India, dan bahkan Tiongkok. Aktivitas perdagangan ini menghasilkan kemakmuran yang besar, yang tercermin dalam catatan Tiongkok seperti Ling-wai Tai-ta dan Chu-fan-chi, yang menggambarkan Kediri sebagai kerajaan kaya dengan komoditas seperti kayu cendana, rempah, emas, dan hasil pertanian.

Kediri mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Jayabhaya (1135–1157). Era Jayabhaya dikenal sebagai masa emas sastra Jawa Kuno, ditandai oleh lahirnya karya-karya besar seperti Kakawin Bharatayuddha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, yang menjadi simbol kebangkitan budaya sastra Jawa. Jayabhaya dianggap sebagai raja yang adil dan bijaksana, sehingga pada masa berikutnya muncul naskah Pralambang Joyoboyo atau ramalan Jayabhaya, yang memosisikan dirinya sebagai figur simbolik yang melampaui perannya sebagai raja.

Selain jayanya sastra, Kediri juga memiliki sistem politik yang kuat dan relatif stabil. Raja-raja Kediri memerintah melalui struktur birokrasi yang teratur, dibantu oleh pejabat istana serta para brahmana yang mengelola urusan keagamaan dan legitimasi kekuasaan. Sistem pemerintahan Kediri mencerminkan perpaduan antara tradisi Hindu dan budaya lokal Jawa, yang diwujudkan dalam konsepsi raja sebagai cakravartin, penguasa universal yang menjaga keseimbangan kosmos dan dunia.

Pada abad ke-12, Kediri semakin berkembang sebagai kekuatan maritim. Catatan asing menunjukkan bahwa kapal-kapal dari Kediri mampu berlayar jauh hingga kawasan Asia Tenggara lain. Kediri bahkan disebut terlibat dalam persaingan dagang dengan Sriwijaya, terutama setelah melemahnya Sriwijaya akibat serangan Cola dari India Selatan pada abad ke-11. Kondisi ini memungkinkan Kediri memperluas pengaruhnya di jalur perdagangan Nusantara.

Kehidupan budaya dan spiritual Kediri juga berkembang pesat. Selain sastra, seni arca dan keagamaan mengalami kemajuan, terutama pengaruh Hindu-Siwa yang sangat kuat. Candi-candi di Jawa Timur seperti Candi Gurah diyakini berkaitan dengan masa Kediri, meski tidak semua peninggalannya berhasil ditemukan secara utuh akibat aktivitas vulkanik dan perubahan aliran sungai. Seniman Jawa pada masa Kediri juga mengembangkan gaya seni yang kemudian memengaruhi masa Singosari dan Majapahit.

Keruntuhan Kediri mulai terlihat pada awal abad ke-13 ketika kerajaan mengalami tekanan dari Janggala dan wilayah-wilayah lain di sekitarnya. Puncaknya terjadi pada masa Kertajaya (1185–1222), raja terakhir Kediri, yang mengalami konflik dengan kaum brahmana akibat upaya memperkuat kekuasaan raja secara absolut. Situasi ini membuat kaum brahmana berpihak kepada Ken Arok dari Tumapel (Singosari). Pada tahun 1222, Kertajaya dikalahkan dalam pertempuran Ganter, menandai berakhirnya Kerajaan Kediri dan munculnya Singosari sebagai kekuatan baru di Jawa Timur. Meskipun demikian, Kediri tidak sepenuhnya hilang, karena secara budaya dan politik, tradisi Kediri diwarisi oleh Singosari dan Majapahit, termasuk perkembangan sastra, sistem pemerintahan, serta identitas Hindu-Buddha Jawa Timur.

Dengan demikian, Kerajaan Kediri memainkan peran krusial dalam sejarah Indonesia klasik. Ia tidak hanya menjadi kerajaan agraris yang makmur, tetapi juga pusat perkembangan sastra, budaya, perdagangan, dan politik yang meninggalkan pengaruh besar bagi kerajaan-kerajaan sesudahnya. Kediri menjadi salah satu fondasi penting dalam pembentukan tradisi politik dan budaya Jawa, sebelum akhirnya diwariskan kepada Singosari dan Majapahit.

Daftar Pustaka

Munandar, A. A. (2011). Arkeologi dan Sejarah Kerajaan-kerajaan Hindu–Buddha di Jawa Timur. Wedatama Widya Sastra.

Related Post