Gambar: Candi Singosari , pendarmaan Kertanegara
Kerajaan Singosari merupakan salah satu kerajaan penting dalam sejarah Jawa yang berkembang pada abad ke-13 dan menjadi fondasi politik bagi kemunculan Majapahit. Kerajaan ini berdiri sekitar tahun 1222 setelah kemenangan Ken Arok atas Kertajaya dari Kediri dalam pertempuran Ganter. Berdirinya Singosari menandai lahirnya dinasti baru di Jawa Timur yang dikenal sebagai Dinasti Rajasa. Ken Arok, pendirinya, adalah tokoh yang memiliki kisah historis sekaligus mitologis, karena sumber seperti Pararaton menampilkan campuran fakta sejarah dan narasi legenda. Namun, melalui sumber prasasti dan perbandingan dengan kronik-kronik lain, para ahli sepakat bahwa masa pemerintahan Ken Arok menjadi titik awal transformasi politik yang besar di Jawa Timur, terutama pembentukan struktur pemerintahan dan militer yang lebih terorganisasi.
Pada masa awal, Singosari menghadapi tantangan internal berupa konflik perebutan kekuasaan yang sering berlangsung antarketurunan Ken Arok. Setelah Ken Arok dibunuh oleh Anusapati, kekuasaan berpindah di antara keturunan Ken Arok dan Tunggul Ametung. Dinamika politik ini tidak hanya menggambarkan persaingan dinasti, tetapi juga menunjukkan bagaimana legitimasi kekuasaan pada masa itu sangat dipengaruhi oleh konsep kingship Hindu-Buddha, di mana raja dianggap sebagai perwujudan dharma di dunia. Setiap suksesi yang tidak stabil berpotensi mengancam harmoni kosmologis kerajaan, sehingga intrik dan perebutan kekuasaan sering dipandang sebagai konsekuensi dari pertarungan legitimasi spiritual dan politis.
Stabilitas Singosari mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Raja Wisnuwardhana dan terutama Kertanegara, raja terakhir Singosari. Kertanegara dikenal sebagai raja yang memiliki visi politik besar untuk menyatukan wilayah Nusantara dan meluaskan pengaruh Singosari ke luar Jawa. Kebijakan pentingnya adalah Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275, yang bertujuan memperkuat pengaruh Singosari di Sumatra serta mencegah ekspansi Kekaisaran Mongol di kawasan Asia Tenggara. Pada masa Kertanegara pula, Singosari mencapai tingkat perkembangan budaya dan spiritual yang tinggi. Ia dikenal sebagai penganut aliran Hindu-Buddha Tantrayana yang mempengaruhi seni arca dan relief pada masa itu. Patung-patung seperti Joko Dolog dan fragmen arca Buddhis dari masa tersebut menunjukkan sinkretisme keagamaan yang menjadi ciri khas Jawa Timur.
Sementara itu, di bidang hubungan luar negeri, Singosari pada masa Kertanegara terhubung dengan jaringan diplomasi internasional. Interaksi dengan kerajaan-kerajaan Asia Tenggara lain seperti Melayu Dharmasraya serta ancaman datangnya ekspedisi Mongol dari Dinasti Yuan mencerminkan posisi Singosari sebagai aktor politik kawasan. Kebijakan Kertanegara yang menolak tunduk pada kekaisaran Mongol dengan melukai utusan Kubilai Khan menunjukkan tingkat kemandirian politik yang tinggi, tetapi sekaligus memicu ancaman pembalasan yang kelak berperan dalam tumbangnya Singosari.
Keruntuhan Singosari terjadi pada tahun 1292 ketika Jayakatwang dari Kediri melakukan serangan mendadak dan berhasil membunuh Kertanegara. Serangan ini dimungkinkan oleh fakta bahwa kekuatan militer Singosari tersebar dalam banyak ekspedisi luar negeri, sehingga pusat kerajaan menjadi rentan. Namun, kejatuhan Singosari bukanlah akhir dari dinasti Rajasa. Raden Wijaya, keturunan langsung Ken Arok, berhasil melarikan diri dan kemudian memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol pada 1293 dengan strategi politik yang cerdik. Ia membantu pasukan Mongol mengalahkan Jayakatwang, lalu berbalik melawan Mongol sehingga berhasil mendirikan Kerajaan Majapahit. Melalui peristiwa inilah Singosari dapat dianggap sebagai pendahulu langsung Majapahit, mewariskan struktur politik, jaringan kekuasaan, serta legitimasi dinastinya.
Warisan Singosari juga tampak pada peninggalan arkeologis seperti Candi Singosari, Candi Jago, Candi Kidal, dan sejumlah arca yang menggambarkan raja-raja sebagai penitisan dewa, contoh sinkretisme keagamaan khas Jawa Timur. Selain itu, konsep politik mandala, struktur birokrasi, serta praktik diplomasi yang berkembang pada masa Singosari menjadi pondasi bagi kejayaan Majapahit di abad ke-14. Dengan demikian, meskipun masa berdirinya tidak panjang, Kerajaan Singosari memiliki peran yang sangat signifikan dalam membentuk identitas politik, budaya, dan spiritual yang kemudian mencapai puncaknya pada era Majapahit.






