Homo Deus: Membaca Ambisi Manusia untuk Menguasai Masa Depan

Khoirun Nikmah

Homo Deus merupakan karya yang luar biasa dari Yuval Noah Harari selain Sapiens. Cukup lama menghatamkan Homo Deus, buku ini saya be;i pada tahun 2018 dan baru selesai saya baca pada Agustus 2026. Harari adalah sejarawan yang vioner, dan sejarawan mempelajari masa lalu dalam rangka tidak untuk mengulanginya, tetapi dalam rangka membebaskan kemungkina terburuk. Mempelajari sejarah tidak akan memberitahu kita apa yang harus dipilih, tetapi paling tidak sejarah memberikan opsi-opsi lebih banyak. Daftar isi buku ini sangat provokatif, pada bagian satu Harari memberikan judul Homo Sapiens Menaklukan dunia, Antroposen dan Penanda Manusia. Pada bagian dua Homo Sapiens memberi makan bagi dunia yang terdiri dari bab para pendongeng, pasangan aneh, perjanjian modern, dan revolusi humanis. bagian tiga Homo Sapiens kehilangan kendali, yang terdiri dari bom waktu dalam laboratorium, pemisahan besar, samudera kesadaran, dan ditutup dengan agama data. Yang saya tulis ini merupakan hal-hal yang menarik dalam buku. Mungkin jika saya membaca dua kali, hal yang menarik akan bertambah. Jadi yag saya tulis dalam artikel ini adalah yang menarik untuk saya, sehingga terkesan tulisan saya loncat-loncat dan tidak sistematis.

  1. Agenda Baru Umat Manusia

Selama ribuan tahun tiga masalah yang menyibukkan pikiran manusia yakni kelaparan, wabah dan perang. Musuh terbesar manusia dulunya adalah kelaparan dan gizi buruk yang membunuh sekitar satu juta orang, sedangkan musuh terbesar manusia sekarang adalah obesitas membunuh tiga juta orang. Setelah kelaparan, musuh besar kedua kemanusiaan adalah wabah dan penyakit menular. wabah paling terkenal yang dinamakan Maut Hitam meletup pada dekade 1330, di Asia Timur atau tengah, ketika bakteri menumpang kutu Yersiniapestis. antara 75 juta sampai 200 juta orang mati. di Inggris populasi yang mulanya 3,7 jiwa, susut menjadi 2,2 juta Jiwa setelah wabah. Pada 5 Maret 1520kapal-kapal Spanyol meninggalkan Kuba dan menuju Mexico. salah satu budak Afrika bernama Francisco de Egula membawa virus cacar (smallpox). Mexico kehilangan penduduknya karena virus cacar sebanyak 8 juta jiwa. Pada 18 Januari 1779, Kapten James Cook dan rombongannya dari Inggris mencapai Hawaii dan membawa flu pertama, tubercolusis, dan spilis. Para pendatang berikutnya menyebarkan cacar dan tipus. Pada 1853 hanya 70.000 orang yang selamat di Hawaii. Pada 1918, ribuan tentara Prancis mati akibat flu Spanyol. WHO 1979 melakukan vaksinasi cacar. Pada 2012, sekitar 56 juta orang mati di dunia, 600.000 di antaranya akibat kekerasan manusia (perang membunuh 120.000 orang, dan kejahatan membunuh 500.000). Bandingkan 800.000 orang melakukan bunuh diri , dari 1,5 juta orang mati karena diabetes. saat ini gula lebih berbahaya daripada bubuk mesiu.

Setelah manusia sukses

Agenda baru manusia abad ke 21 adalah melakukan upaya imortalitas, menemukan kunci kebahagiaan, dan keilahian. Kebahagiaan mamou bertahan karena ditopang oleh psikologis dan biologis. pada level psikologis kebahagiaan bergantung pada ekspektasi, bukan kondisi-kondisi objektif. Kita bahagia ketika realistis sesuai dengan ekspektasi. Pada level biologis, baik ekspektasi mauoun kebahagiaan ditentikan oleh biokimia. Menurut sains kehidupan, kebahagiaan dan penderitaan tidak lain adalah ragam keseimbangan sensasi ragawi. Kita tidak pernah beraksi terhadap peristiwa di dunia luar, tatapi hanya sensasi -sensasi dalam tubuh kita sendiri. Satu-satunya hal yang membuat orang menderita dan bahagia adalah sensasi-sensasi tidak menyenagkan dan menyenangkan dalam tubuhnya sendiri. Untuk mendapatkan kebahagiaan yang sejati, manusia perlu memperlambatperburuan sensasi-sensasi kesenangan, bukan mempercepatnya. Dalam mencari kebahagiain dan imortalitas, manusia benar-benar berusaha untuk meningkatkan diri menjadi tuhan-tuhan. Manusia kemungkinan akan menempuh tiga jalan yakni rekayasa biologis, rekayasa cyborg, dan rekayasa benda-benda non organik.

2. Antroposen

Injil, dengan keyakinan pada keistimewaan manusia, adalah salah satu dari produk sampingan Revolusi Agrikultur. Epos Gigamesh pada masa Sumeria dalam peradaban Mesopotamia menerangkan bahwa ketika tuhan-tuhan mengirimkan banjir besar untuk menghancurkan dunia, hampir semua binatang dan manusia musnah. Saat itulah tuhan-tuhan yang ceroboh baru menyadari tak ada yag tersisa yang akan memberikan persembahan pada mereka. Mereka kalang kabut dengan lapar dan stres. Untunglah satu keluarga selamat, bekat pikiran visoner tuhan Enki, yang memerintahkan pengikutnya Utnapishtin berlindung di sebuah perahukayu besarbeserta kerabat dan sekawan hewan. Ketika banjir surut dan Nuh Mesopotamia ini muncul dari perahunya, hal yang pertam dilakukan adalah mengorbankan sebagian binatangnya kepada tuhan-tuhan. Tuhan-tuhan mengerubungi persembahan itu layaknya lalat. Kisah biblikal tentnag banjir yang ditulis lebih dari 1.000 tahun setelah versi Mesopotamia juga melaporkan bahwa segera setelah meninggalkan perahu, “Nuh membangun sebuat altar/mezbah untuk tuhan dan mengambil binatang dan mempersembahkan kepada tuhan.

8:20 Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. 8:21 Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. (Kejadian 8:20-21)

Kisah banjir itu menjadi mitos dasar dunia agrikultural. Banjir mengajarkan kepada kita bahwa perbuatan-perbuatan kta bisa merusak ekosistem, dan manusia ditugasi tuhan untuk melindungi semua ciptaan. Bisa disimpulkan bahwa Revolusi agrikultur merupakan sebuah revolusi ekonomi dan agama. Jika revolusi agrikultur memunculkan agama-agama bertuhan, maka Revolusi Saintifik melahirkan gama-agama humanis (liberalisme, komunisme, dan Nazisme), yang di dalamnya manusia menggantikan tuhan-tuhan.

3. Penanda Manusia

Monoteis tradisonal menjawab bahwa hanya Sapiens yang punya jiwa abadi Sementara tubuh rusak dan membusuk, jiwa meneruskan perjalana menuju penyelamatan atau kutukan, dan akan menjalani kebahagiaan abadi di surga, atau penderitaan abadi di neraka. Namun sains kehidupan meragukan eksistensi jiwa bukan hanya tidak ada bukti, melainkan lebih karena ide tentang jiwa itu bertentangan dengan prinsip-prinsip yang paling mendasar dari evolusi. Kontradiksi inilah yang bertanggungjawab atas kebencian tanpa batas yang disulutkan teori evolusi pada kalangan penganut taat monoteis. Teori evolusi bertumpu pada prinsip yang paling kuat yang bertahan (survival of the fittest), sebuah ide yang jelas dan sederhana, bisa dibilang membosankan. Teori relativitas dan mekanika kuantum berpendapat bahwa anda bisa membelokkan waktu dan ruang, bahwa sesuatu bisa muncul dari ketiadaan. Jika benar-benar memahami teori evolusi, anda memhami tidak ada jiwa.

Selama ribuan tahun manusia menggunakan tuhan untuk menjelaskan benayk fenomena alam. Selama beberapa abad terakhir para ilmuan belum menemukan bukti empiris eksistensi tuhan, sementara mereka menemukan penjelasan yang lebih detail tentang kilatan, petir, hujan dan asal kehidupan. Selam ribuan tahun orang percaya bahwa perbuatan dan keputusan muncul dari jiwa kita, sains kehidupa telah mencoret jiwa.

Pemimpin itu mungkin memngancam pembangkang dengan hukuman yang kejam, sambil menjanjikan ynag pasrah dan sabar imbalan abadi di akhirat. Inilah yang terjadi di Mesir Kuno, Prusia abad ke 18 dan beitulah yang masih berlaku di sejumlah negara di dunia. Ancaman dan janji semacam itu sering menciptakan hierarki manusia dan jaringan kerja sama yang stabil, sepanjang orang percaya bahwa hal tersebut mencerminkan hukum alam yang tak terhindarkan atau perintah ilahiahdari tuhan, bukan sekedar keinginan manusia. Selam semua sapiens yang hidup dalam wilayah tertentu percaya pada kisah serupa, mereka semua akan mengikuti aturan yang sama sehingga mudah utuk diprediksi perilaku asing dan mengorganisasi jaringan kerja sam massal. Sapiens sering menggunakan tanda-tand avisula seperti serban, brewo, atau pakaian bisnid resmi untuk mengisyaratkan and amempercayai saya, saya percaya pada cerita yang sam dengan anda.

Orang kesulitan memahami ide tentang tatanan yang diimajinasikan karena mereka berasumsi bahwa hanya ada dua jenis realitas: realitas objektif dan realitas subjektif. Ada realitas yang levelnya lebih tinggi : level intersubjektif

Related Post